Kendala hilirisasi hasil riset perguruan tinggi diungkap Rektor Unand

Kendala hilirisasi hasil riset perguruan tinggi diungkap Rektor Unand

Rektor Unand Prof Tafdil Husni saat saat membuka Konferensi Nasional Klaster dan Hilirisasi Riset Berkelanjutan V 2019 di Padang, Senin (18/11/2019). (FOTO ANTARA/Ikhwan Wahyudi)

Padang, (ANTARA) - Rektor Universitas Andalas (Unand) Padang Prof Tafdil Husni mengungkap sejumlah kendala hiliriasi hasil riset perguruan tinggi sehingga hasil penelitian belum dapat diaplikasikan di masyarakat.

"Kendala pertama adalah setelah riset selesai dilakukan dan mendapatkan hak paten banyak yang berhenti pada tahapan tersebut," katanya di Padang, Sumatera Barat, Senin saat membuka Konferensi Nasional Klaster dan Hilirisasi Riset Berkelanjutan V 2019.

Menurutnya selain itu ada kendala regulasi yang menghambat untuk dilakukan hilirisasi riset dan ini menyangkut hubungan dengan dunia industri.

Oleh sebab itu, katanya, perlu perubahan aturan agar hilirisasi riset menjadi lebih mudah diadopsi dunia usaha dan industri.

Kemudian kendala hilirisasi riset lain yang kerap dihadapi adalah jika sudah ada penelitian yang bisa diaplikasikan terkendala dengan ketersediaan bahan baku produk.

"Ada hilirisasi riset yang bisa diaplikasikan, kadang bahan baku minim atau sulit didapat sehingga akhirnya berbiaya tinggi," katanya.

Berikutnya untuk hilirisasi riset dibutuhkan penelitian lanjutan sebagai upaya pengembangan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Tafdil Husni menyatakan bahwa menjawab paradigma baru saat ini perguruan tinggi fokus pada hilirisasi riset dan saat ini masih sedikit hasil riset yang bisa dikomersialisasi.

Sebanyak 1.300 makalah dibahas pada Konferensi Nasional Klaster dan Hilirisasi Riset Berkelanjutan V 2019 di Universitas Andalas (Unand) Padang pada 18-24 November 2019.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unand Uyung Gatot Syafrawi menyampaikan pelaksanaan konferensi menjawab paradigma baru bahwa hasil riset yang dihasilkan perguruan tinggi harus bisa dihilirisasi sehingga bermanfaat langsung bagi publik.

Adapun klaster riset yang dibahas meliputi ketahanan pangan, obat berbahan alam, gizi dan kesehatan, inovasi sains, mitigasi bencana, inovasi teknologi dan industri, pengembangan karakter bangsa, ekonomi dan sumber daya manusia, hukum politik dan masyarakat madani.

Selain itu juga digelar hilirisasi iptek berupa pemanfaatan dan komersialisasi produk, membantu nagari membangun, pengabdian kepada masyarakat, expo poster ilmiah, expo dan bazar produk inovasi dan binaan.

Baca juga: Universitas perlu Technology Transfer Office untuk hilirisasi riset

Baca juga: Konferensi Hilirisasi Riset di Unand bahas 1.300 karya tulis ilmiah

Baca juga: Jangan ada jurang lebar antara lembaga litbang dan industri
Pewarta : Ikhwan Wahyudi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019