PMDSU hasilkan 547 jurnal internasional

PMDSU hasilkan 547 jurnal internasional

Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti. (ANTARA/Indriani)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ali Ghufron Mukti mengatakan Program Pendidikan Magister Menuju Doktor Untuk Sarjana Unggul (PMDSU) telah menghasilkan 547 jurnal internasional.

"Total publikasi yang dihasilkan sejak 2015 sebanyak 547 jurnal internasional dari 211 mahasiswa," ujar dia dalam program anjangsana mahasiswa PMDSU di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan PMDSU merupakan program akselerasi untuk mempercepat jumlah doktor di Tanah Air.

Melalui program itu, kata Gufron, gelar magister dan doktor dapat diraih dalam kurun waktu empat tahun.

Program tersebut dimulai sejak 2013 dan hingga saat ini telah menghasilkan sejumlah doktor, yang saat ini menjadi peneliti maupun dosen di Tanah Air.

Hingga saat ini, terdapat lima angkatan PMDSU yang tersebar di sejumlah kampus.

Baca juga: Mahasiswa "PMDSU" lebih unggul dalam penelitian

Ghufron menjelaskan program tersebut juga menghemat biaya pendidikan dibandingkan dengan menyekolahkan mahasiswa tersebut di luar negeri.

Contohnya untuk biaya pendidikan S3 selama empat tahun di luar negeri membutuhkan biaya Rp320 juta per orang, sedangkan beasiswa PMDSU hanya mengeluarkan dana Rp380 juta untuk pendidikan magister dan doktor.

"Kami harapkan progam ini terus berlanjut karena terbukti efektif mencetak doktor-doktor muda," kata dia.

Mekanisme seleksi PMDSU melalui tiga tahap, yakni seleksi perguruan tinggi penyelenggara, seleksi promotor PMDSU, dan seleksi mahasiswa PMDSU.

Untuk target luaran program itu, yakni menghasilkan doktor muda unggul, Indonesia menembus jurnal top dunia, serta sains dan teknologi diakui dunia.

Baca juga: Program profesor kelas dunia diharapkan perkuat inovasi
Baca juga: Kemristekdikti: bukan undang dosen asing tapi profesor kelas dunia
Baca juga: Kemenristekdikti: kebohongan akademis tidak dapat diterima
Pewarta : Indriani
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019