Kamis pagi, Jakarta tempati kualitas udara terburuk keempat

Kamis pagi, Jakarta tempati kualitas udara terburuk keempat

Salah satu pengunjung gunakan himbauan CFD perbaiki kualitas udara Jakarta di Spot Budaya Taman Dukuh Atas, Jakarta Selatan, Minggu (22/9/2019). (Antara/Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - DKI Jakarta kembali menempati peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, Kamis pagi.

Berdasarkan data dari laman AirVisual.com pada pukul 06.00 WIB kualitas udara Jakarta saat ini mencapai angka 164 berdasarkan AQI atau indeks kualitas udara dengan status udara tidak sehat.

Peringkat tersebut setara dengan nilai polutan sebesar 80.2 µg/m³ dengan perimeter PM 2.5.

Peringkat ini naik 4 poin berdasarkan AQI dari kualitas udara Jakarta Kamis pekan lalu sebesar 160.

Kualitas udara terburuk pertama dan kedua ditempati oleh kota Kuwait di Kuwait dan Dhaka di Bangladesh dengan nilai 183 berdasarkan AQI atau setara dengan PM2.5 sebesar 127,2 µg/m³.

Pada posisi ketiga ditempati oleh Kota Dubai di Uni Emirat Arab dengan status udara tidak sehat. Dubai memiliki kualitas udara dengan indeks 168 berdasarkan AQI atau setara dengan PM2.5 sebesar 89 µg/m³.

Di posisi kelima Kota Lahore di Pakistan memiliki kualitas udara terburuk di dunia dengan AQI sebesar 162 atau setara PM2.5 sebesar 76 µg/m³.

Kelima negara tersebut memiliki status udara tidak sehat dan masyarakat lebih disarankan untuk beraktivitas di dalam ruangan.

Jika masyarakat ingin beraktivitas di luar ruangan, pemakaian masker dianjurkan agar tidak terpapar partikel halus udara yang berbahaya bagi kesehatan saluran pernafasan.

Sejak Agustus 2019, masyarakat Jakarta harus menghirup udara dengan kualitas udara yang buruk berdasarkan laporan kualitas udara di situs AirVisual.com.

Kualitas buruk ini berakhir di meja hijau oleh kelompok masyarakat bernama Ibu Kota yang menggugat 7 jabatan penting di Indonesia, dua di antaranya adalah Presiden Republik Indonesia dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta.
 
Pewarta : Livia Kristianti
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2019