UI gelar debat publik tiga calon rektor

UI gelar debat publik tiga calon rektor

Debat tiga calon rektor UI. ANTARA/HO-Humas UI

Depok (ANTARA) - Universitas Indonesia (UI) akan menggelar debat publik Calon Rektor UI periode 2019-2024 di Makara Art Center, Kampus Universitas Indonesia, Depok, pada Rabu (25/9) mulai pukul 08.30-13.30 WIB.

Kepala Humas dan Keterbukaan Informasi Publik (KIP) UI Rifelly Dewi Astuti di Depok, Kamis, mengatakan usai debat publik akan diumumkan rektor terpilih UI.

Universitas Indonesia sejak Agustus 2019 melakukan penjaringan calon rektor dengan menjaring sebanyak 21 calon rektor, kemudian mengerucut menjadi 20 orang. Selanjutnya disaring kembali dengan mendapatkan tujuh calon rektor dan terakhir menjadi tiga calon rektor.

Berikut adalah profil tiga calon rektor UI:

1. Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris

Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris adalah Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI yang masih menjabat hingga sekarang. Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris lahir di Pemalang pada 21 September 1970 dari keluarga petani yang membentuknya menjadi pribadi yang disiplin dan bekerja keras.

Abd Haris mendapatkan gelar sarjana dan magisternya dari FMIPA UI dari Departemen Fisika, kemudian melanjutkan pendidikan doktornya di Kiel Univeristy dalam bidang Geofisika. Saat ini, Haris telah menggapai tingkat tertinggi dalam bidang akademik yakni menjadi seorang Guru Besar.

Selama menjadi Dekan di FMIPA UI, Abdul Haris membawa banyak perubahan yang ditandai dengan bertambahnya fasilitas kesejahteraan. Dua gedung laboratorium Riset Multidisiplin Pertamina-FMIPA UI juga berhasil didirikan dan hibah sebesar Rp7 miliar dari Sinar Mas Group juga didapatkannya untuk utilisasi gedung tersebut.

Selain itu, kerja sama antara beberapa perusahaan seperti Schlumberger juga telah diperoleh. Dalam bidang riset, Prof. Abd Haris juga berhasil membuat FMIPA sebagai penghasil publikasi terbesar kedua di UI dengan dampak positif meningkatnya Guru Besar hingga 117 persen.

Di luar Universitas Indonesia, Prof. Abd Haris juga tercatat aktif tergabung dalam Himpunan Ahli Geofisika Indonesia (HAGI), dan terdaftar sebagai vice president. Dalam pemilihan Rektor UI periode 2019-2024, Prof. Abd Haris memiliki visi “Mengembangkan dan mentransformasi Universitas Indonesia menjadi universitas unggulan di tingkat global dengan tetap mempertahankan nilai-nilai Universitas Indonesia” dengan program-program yang dijabarkan melalui HARIS for UI, yaitu Human Capital, Acceleration, Reform, Integration, dan Sustainability.

Prof. Abd Haris mengatakan bahwa Universitas Indonesia memiliki peran yang sangat besar karena Universitas Indonesia adalah universitas terbaik di Indonesia dan menjadi Guru Bangsa. Dalam programnya, beliau akan menjadikan UI sebagai universitas yang mandiri dan otonom serta mampu menyelesaikan berbagai masalah.

UI juga diharapkan akan bisa menjadi agen reformasi dan riset serta harus adaptif dan tanggap karena dunia yang semakin maju ini. Abdul Haris juga membahas program untuk menjadikan UI menjadi universitas unggulan dan harus menjadikan serta menghasilkan lulusan-lulusan yang unggulan untuk bisa menghadapi berbagai masalah bangsa.

2. Prof. Ari Kuncoro, S.E, M.A, Ph.D.

Prof. Ari Kuncoro, S.E, M.A, Ph.D merupakan Dekan Fakultas Ekeonomi dan Bisnis (FEB) UI, yang lahir pada tahun 1962 ini, meraih gelar sarjananya di FEB UI dengan konsentrasi Ekonomi Moneter, master of arts dari Univerity of Minessota, dan meraih gelar Ph.D-nya dalam bidang Ilmu Ekonomi dari Brown University.

Prof. Ari merupakan Guru Besar dalam bidang Ilmu Ekonomi di FEB UI dengan google h-index 14 dan menduduki peringkat pertama di Indonesia untuk sitasi karya ilmiah berdasarkan RePEC. Sebelum menjadi hingga seperti ini, Prof. Ari memulai kariernya di LPEM FEB UI sebagai asisten peneliti. Sepak terjangnya dalam akademisi terus berlanjut hingga dia menjadi Wakil Dekan FEB UI sampai menjadi Dekan FEB UI seperti saat ini.

Selain itu, Ari Kuncoro juga memiliki kegiatan lain dalam karier akademisnya seperti membangun kerja sama penelitian dengan Brown University, NBER (National Bureau of Economic Research), NSF (National Science Fondation) di Amerika Serikat. Beberapa penelitiannya juga sudah dipublikasikan dalam jurnal yang memiliki reputasi internasional.

Hingga saat ini Ari Kuncoro aktif dengan kegiatan di luar FEB UI seperti menjadi anggota East Asian Economist Association dan menjadi professor tamu di Brown University dan Australian National University.

Dalam pemilihan rektor UI periode 2019-2024 ini, Prof. Ari Kuncoro membawa visi “Menuju Universitas Indonesia yang inovatif, mandiri, unggul, inklusif, dan bermartabat”. Dalam menunjang visinya tersebut, Prof. Ari mengatakan memiliki beberapa program yang salah satunya berfokus kepada team work.

Menurut dia, terjadinya rupiah yang melemah, ekspor yang menurun, disebabkan SDM Indonesia yang tidak guyub secara internasional. Prof. Ari memiliki program yang ditujukan untuk mahasiswa, yaitu membuat pendidikan yang berbasis kolaborasi. “Selama ini yang dihasilkan adalah individualis, dengan IPK tinggi, lalu kalo jadi team work payah,” ucap beliau.

Baca juga: UI umumkan tiga calon rektor periode 2019-2024

Prof Ari Kuncoro menjelaskan jika team work itu sangat penting karena kita tidak akan bisa pintar sendirian. Untuk itu akan direncanakan program paper kelompok, proyek kelompok, dan lain sebagainya. “Dan itulah program yang akan dicoba supaya SDM Universitas Indonesia dapat berperan untuk menjaga bangsa dan negara kita. Mungkin saat ini masih banyak CEO yang berasal dari Universitas Indonesia, tetapi kita tidak tahu lima tahun ke depan,” tutupnya.

3. Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH

Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH merupakan salah satu Calon Rektor Univeristas Indonesia (UI) yang masuk dalam 7 besar. Beliau merupakan Ketua Komisi 2 Senat Akademik UI periode 2019- 2024 sekaligus Wakil Direktur Bidang Pengembangan Bisnis dan Inovasi Indonesian Medical Education and Research Institute Fakultas Kedokteran UI (IMERI FK UI).

Budi Wiweko merupakan lulusan Ilmu Kedokteran di FK UI, dan meraih gelar spesialis Kemudian di Bidang Imunoendokrinologi Reproduksi di UI. Beliau kemudian mengambil gelar S3 dan mengambil Magister jurusan Manajemen Rumah Sakit di Universitas Gajah Mada (UGM).

Berbicara perihal pengalaman, Budi sempat menjadi Wakil Ketua Senat Mahasiswa FK UI periode 1993-1994, Koordinator Pengembangan Riset Fakultas Kedokteran UI periode 2010-2014, dan Sekretaris Bidang Hubungan Internasional dan Kerjasama MEA Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2015-2018.

Budi Wiweko mengangkat tema “Membangun Universitas Indonesia Menjadi Area Knowledge Economy Melalui Entrepreneurial University” dalam visi misinya sebagai calon rektor UI periode 2019-2024. Prof Budi Wiweko ingin membangun UI dalam tiga bidang, yaitu bidang riset dan teknologi; akademis dan kemasyarakatan; dan kewirausahaan dan kolaborasi.

Di bidang Riset dan Teknologi, Budi Wiweko memiliki tiga misi, yaitu memimpin pendidikan tinggi berbasis penelitian dan inovasi; mengakselerasi implementasi entreprenuerial university dalam bidang pendidikan, penelitian dan pelayanan masyarakat; serta meningkatkan keberadaan dan peran Indonesia di dunia internasional.

Sedangkan dalam Akademis dan Kemasyarakatan, Prof Budi ingin mencetak lulusan Universitas Indonesia sebagai pemimpin masyarakat; mengakselerasi peningkatan kualitas pendidikan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan berkelas dunia (join degree); dan aktif membantu pemerintah serta berpartisipasi dalam membangun ketahanan, kemandirian dan daya saing bangsa.

Kemudian dalam bidang Kewirusausahaan dan Kolaborasi ia juga memiliki tiga misi, yaitu membangun kapasitas dan memberdayakan semua sumber daya dalam mencapai tujuan bersama; membangun budaya entrepreneur bagi semua sivitas akademika; dan membuka pintu seluas-luasnya dalam aspek kolaborasi serta kemitraan dengan alumni, pemerintah, industri dan masyarakat.

Baca juga: Tujuh calon rektor UI periode 2019-2024 lulus tahap lanjutan
Baca juga: UI saring calon rektor menjadi 20 orang
Pewarta : Feru Lantara
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2019