Kuala Lumpur (ANTARA) - Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok menyatakan keprihatinan atas penutupan tanah milik anak perusahaan dari empat perusahaan perkebunan kelapa sawit utama milik Malaysia di Indonesia.

Pernyataan tersebut dikirimkan Theresa Kok kepada media di Kuala Lumpur dari Ho Chi Minh Vietnam, Jumat.

“Saya sangat prihatin dengan pernyataan dari pihak berwenang Indonesia bahwa mereka telah menutup tanah milik anak perusahaan dari empat perusahaan perkebunan kelapa sawit milik Malaysia,” katanya.

Dia menilai kebakaran yang dikatakan terjadi di properti tersebut memang tuduhan yang sangat serius.

Baca juga: Indonesia-Malaysia bentuk Dewan Penghasil Minyak Sawit

“Dari catatan kami, empat perusahaan Malaysia yang disebutkan adalah di antara pembudidaya kelapa sawit yang paling dihormati,” katanya.

Mereka telah mengadopsi praktik budidaya berkelanjutan bersertifikat baik melalui MSPO, RSPO, ISCC atau kombinasi dari sistem sertifikasi yang diakui secara internasional.

“Mereka yang akrab dengan industri akan menjamin kenyataan bahwa tindakan pembakaran terbuka seperti tuduhan saat ini akan mengakibatkan penghentian status sertifikasi mereka tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh operasi mereka termasuk di Malaysia,”’ katanya.

Baca juga: RSPO nilai standar sawit Indonesia-Malaysia sulit dijalankan

Tindakan semacam ini, ujar dia, agak kontraproduktif dengan status bisnis mereka.

“Saya tidak bisa berkomentar sepenuhnya tentang investigasi dan pelaporan oleh Indonesia sampai pejabat Kementerian saya memiliki akses penuh ke laporan investigasi," katanya.

Namun setelah berkomunikasi dengan empat perusahaan bersangkutan, ujar dia, pihaknya dapat menyatakan bahwa mereka juga akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk memperbaiki tuduhan tersebut dan menyelesaikan masalah dengan cepat.

Baca juga: Indonesia, Malaysia promosikan kelapa sawit berkelanjutan di UE

"Tindakan semacam itu juga sangat dibenarkan karena saya tetap khawatir bahwa tuduhan saat ini akan langsung jatuh ke tangan para pegiat anti minyak kelapa sawit dan baik Indonesia maupun Malaysia sebagai produsen minyak kelapa sawit utama dapat berakhir sebagai pihak yang paling merugi," katanya.

Teresa akan berbicara dengan rekannya dari Indonesia dan berharap untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat dan ramah.

Dia tidak menyebutkan nama empat anak perusahaan perkebunan sawit Malaysia yang ditutup tersebut.

 

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Mohamad Anthoni
Copyright © ANTARA 2019