Perilaku seks menyimpang dominasi penyebaran HIV/AIDS di Aceh

Perilaku seks menyimpang dominasi penyebaran HIV/AIDS di Aceh

Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman. (ANTARA/Teuku Dedi Iskandar)

Meulaboh (ANTARA) - Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular, Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, dr Imam Murahman di Meulaboh, Selasa, mengatakan tingginya sebaran penyakit HIV/AIDS di Aceh disebabkan adanya perilaku seks menyimpang yang dilakukan oleh sesama jenis yakni antara laki-laki dengan laki-laki lainnya (gay/homo seksual).

Menurutnya, saat ini jumlah warga yang terjangkit penyakit HIV/AIDS di Provinsi Aceh sejak tahun 2004 hingga 30 Juni 2019 lalu tercatat mencapai 840 kasus.

Ada pun sebaran kasus jangkitan tertinggi tersebut terjadi di Kabupaten Aceh Utara dengan 104 kasus, kemudian Kota Banda Aceh 88 kasus, Aceh Tamiang 83 kasus, Bireuen 71 kasus, Kota Lhokseumawe 54 kasus, Kota Langsa 54 kasus, Kabupaten Aceh Besar 50 kasus, Kabupaten Pidie 53 kasus.

Kemudian Kabupaten Aceh Timur 53 kasus, Kabupaten Aceh Tenggara 36 kasus, Kabupaten Aceh Tengah 35 kasus, Kabupaten Aceh Selatan 27 kasus, Kabupaten Simeulue 19 kasus, Kabupaten Gayo Lues 17 kasus, Kota Subulussalam 21 kasus. Kabupaten Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, dan Bener Meriah masing-masing 13 kasus, Kota Sabang 11 kasus, Kabupaten Nagan Raya delapan kasus, serta Aceh Jaya empat kasus.

"Kasus penularan HIV/AIDS di Provinsi Aceh didominasi oleh prilaku sex bebas, terutama mereka yang berhubungan seks sesama jenis seperti kalangan gay," kata Imam Murahman.

Baca juga: 840 warga Aceh terjangkit HIV AIDS

Baca juga: 360 ODHA baru ditemukan di Tulungagung selama 2019


Menurutnya, perilaku orientasi seksual menyimpang yang dilakukan oleh para pelaku yang sebelumnya sudah terjangkit HIV/AIDS, dengan cara mencari sistem anakan dengan cara mencari pasangan seks yang sama sekali belum dikenal oleh pelaku.

Para pelaku, biasanya menawarkan kebaikan kepada calon korban dengan cara membayar makanan minuman, uang, memberi hadiah dan kemudian membujuk calon korban ke rumah agar dapat menuntaskan hasrat seksnya yang menyimpang.

Cara tersebut diduga dilakukan secara paksaan kepada calon korban, sehingga menyebabkan bagian anus/dubur korban berdarah sehingga hal ini kemudian diduga kuat sebagai salah satu sumber penyebaran penyakit HIV/AIDS di kalangan pemuda di Aceh.

"Biasanya banyak mahasiswa yang menjadi korban. Dan mereka ini (kelompok homoseksual) sangat sulit dikenali," kata dr Imam Murahman.*

Baca juga: Perhatian keluarga dibutuhkan agar ODHA mampu bertahan

Baca juga: Dewan Adat Papua prihatin penyebaran HIV/AIDS-malaria dan TB
Pewarta : Teuku Dedi Iskandar
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019