Tangerang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, Banten, menyatakan akan terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak berwenang guna mengupayakan pencarian lanjutan terhadap dua warganya yakni Warta (kapten kapal) dan Heriyanto (pemandu) yang masuk ke dalam rombongan jurnalis hilang kotak di Selat Sunda pada 7 September 2026.
Bupati Pandeglang Dewi Setiani di Tangerang, Kamis menyampaikan pihak pemerintah daerah (pemda) tetap menghormati seluruh keputusan yang telah diambil oleh unsur SAR gabungan, termasuk Basarnas, TNI, dan Polri, dalam penanganan musibah ini.
"Terkait dengan hal tersebut, kami pemerintah daerah mempunyai juga tanggung jawab dan kewenangan tersendiri, tapi kami menghormati semua keputusan yang sudah diambil oleh pihak-pihak dari Basarnas, TNI, Polri," ujarnya.
Baca juga: PWI Lebak sambangi rumah ayah M Bagus Khoirunnas
Ia mengatakan Pemkab Pandeglang saat ini akan terus mengupayakan proses pencarian lanjutan menyusul ditemukannya satu korban atas nama Sukarman (60), salah satu kru kapal cepat KM Arupadatu I di perairan Pulau Enggano, Bengkulu.
"Pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan dan membuka ruang koordinasi lanjutan bersama tim penyelamat demi memenuhi harapan keluarga korban," katanya.
Dalam kesempatan itu Bupati Dewi juga menyampaikan rasa duka mendalam serta apresiasi jajaran kepolisian yang telah membantu proses pemulangan jenazah hingga tiba di daerah asal.
"Kami atas nama pemerintah daerah dan masyarakat mengucapkan terima kasih kepada Polda Bengkulu dan juga Polda Banten yang sudah memfasilitasi kepulangan warga kami. Semoga keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan," tuturnya.
Baca juga: Hipertensi jadi temuan terbanyak hasil CKG di Lebak
Pemkab Pandeglang memastikan akan mendampingi prosesi pemulangan jenazah almarhum Sukarman secara penuh hingga ke tempat peristirahatan terakhir."Kami akan mengantarkan sampai prosesi dishalatkan dan juga dimakamkan," kata dia.
Sebelumnya Kepolisian Daerah (Polda) Banten mengungkapkan hasil pencocokan DNA antara sampel antemortem terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, identik dengan identitas Surakman atau Sukarman (60), salah satu kru kapal cepat KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis hilang kontak di Selat Sunda .
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan kepastian identitas tersebut diperoleh setelah tim Disaster Victim Investigation (DVI) Pusdokkes Polri melakukan pemeriksaan dan pencocokan data DNA secara mendalam.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA operasi DVI Pusdokkes Polri terhadap jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano, secara genetik dengan kode PM/62/P.Enggano/01, teridentifikasi sebagai Sukarman, ABK kapal yang merupakan ayah biologis dari Yayat (anak)," jelasnya.
Baca juga: Gubernur komitmen permudah akses pupuk petani singkong Lebak
Untuk tahapan identifikasi temuan jenazah ini bermula dari operasi SAR terhadap delapan orang yang terdiri atas lima jurnalis dan tiga kru kapal Arupadatu I yang hilang kontak setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan Carita, Kabupaten Pandeglang, pukul 14.00 WIB, untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Setelah sepuluh hari dilakukan operasi pencarian intensif oleh tim gabungan, titik terang mulai muncul pada hari kelima pencarian Sabtu (12/9), dimana aparat kepolisian daerah Bengkulu menemukan sesosok jenazah laki-laki tanpa identitas di Perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano.
Menindaklanjuti temuan tersebut, Dokkes Polda Banten berkoordinasi dengan Polda setempat guna mengamankan jenazah dan mengevakuasi menggunakan pesawat Cessna menuju Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Polda Bengkulu untuk proses identifikasi lanjutan.
"Bidang Dokkes Polda Banten kemudian mengirimkan data antemortem dan postmortem dari kedelapan keluarga korban hilang kontak. Tim DVI bersama Kasubbid Dokkes Polri melakukan pencocokan data primer yang meliputi sidik jari, gigi, hingga tes DNA," kata dia.
Baca juga: Pelaku UMKM Kota Tangerang diajak jadi perseroan perorangan
Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arifEditor : Lukman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.