Tangerang (ANTARA) - Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, mengatakan perusahaan perlu mengukur tingkat keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan yang dihasilkan terhadap bisnis, bukan hanya dari seberapa banyak AI digunakan atau eksperimen yang dijalankan.
“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince.
Saat ini, lanjut Vince, sekitar 80-90 persen kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas. Engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan atas hasil akhir.
"Sepanjang 2025, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57 persen, peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13 persen, serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10 persen," ujar Vince didampingi Raymond Chin, Founder Genesis & Sevenpreneur dalam keterangannya.
Baca juga: Calvin Institute of Technology mulai pembangunan Kampus BSD berkonsep AI
Ia juga mengatakan, perusahaan perlu memberi ruang untuk mencoba teknologi baru, sekaligus memastikan tata kelola dan penerapannya tetap bertanggung jawab. Pendekatan tersebut diterapkan dengan memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen, sembari memastikan setiap penggunaan AI memiliki tujuan, parameter keberhasilan, dan akuntabilitas yang jelas.
Di DANA, pendekatan ini salah satunya dilakukan lewat penerapan Smart Friction, yaitu penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi.
"Lewat kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80% sepanjang 2025," katanya.
Norman Sasono, CTO DANA Indonesia mengatakan Coding tetap menjadi kemampuan penting, tetapi keunggulan kompetitif bergeser ke kemampuan memahami bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil secara menyeluruh.
“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman Sasono.
Baca juga: Diskominfo Kota Tangerang latih KIM manfaatkan AI untuk buat konten
Pewarta: Achmad IrfanEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.