Jakarta (ANTARA) - Berbagai permasalahan dalam hidup seringkali membuat diri kita menghabiskan waktu untuk berpikir dan merasa hampir tidak mampu bertahan.
Meski diri beraktivitas seperti biasa dan nampak baik-baik saja, tidak dapat dipungkiri bahwa secara internal kita merasa sedang berjuang dan semuanya menjadi berat.
Menurut siaran Real Simple pada Kamis (27/8) kondisi ini disebut sebagai mode bertahan hidup atau survival mode. Ketika ini terjadi, kita cenderung memasuki mode bertahan hidup, menjalani hari-hari kita dengan penuh semangat, menutup mata terhadap hal-hal lain, dan melakukan segala yang kita bisa untuk sampai ke sisi lain tanpa menambah stres pada beban kita yang sudah berat.
Baca juga: Catat, ini manfaat konsumsi serat bagi tubuh kita
Berikut adalah tanda-tanda sedang memasuki mode bertahan hidup.
Pelupa
Pekerja sosial klinis berlisensi dan pendiri Temperance Psychotherap Nicole Ivelevitch, LCSW mengatakan bahwa salah satu tanda otak sudah kelelahan adalah menjadi pelupa. Biasanya kita akan lupa arah cerita yang ingin disampaikan atau lupa dimana meletakkan barang.
“Karena otak anda fokus pada pemantauan potensi ancaman dan tuntutan, otak akan menghabiskan lebih sedikit energi untuk memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif,” kata Ivelevitch.
Sering terbangun dini hari
Dokter spesialis gawat darurat bersertifikasi, ahli pemulihan kelelahan kerja, dan kepala petugas kesehatan di Physician Wellness Solutions Archana Shrestha, MD, menyampaikan terbangun secara konsisten dan sulit untuk kembali tidur di tengah malam bukanlah hal yang normal.
Menurutnya, ini merupakan tanda bahwa meski fisik sudah beristirahat, pikiran dalam kepala tidak sepenuhnya berhenti. Sehingga kita terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir tentang berbagai hal.
“Semua itu terasa seperti ancaman dan mengaktifkan sistem saraf simpatik anda," kata dia.
Dia melanjutkan bagi orang yang mengalami kelelahan kerja, mereka sering kali takut pergi bekerja dan bertanya pada diri sendiri bagaimana mereka akan mencapai usia pensiun dengan melakukan pekerjaan yang mereka lakukan saat ini.
Baca juga: Catat, ini cara perempuan kelola stres
Mudah tersinggung
Ivelevitch menambahkan bahwa ketika mengalami kelelahan kerja dan sistem saraf menjadi tidak teratur, dan mendorong kita menjadi lebih mudah marah.
Hal ini disebabkan oleh amigdala kita menjadi lebih reaktif, dan korteks prefrontal kita menjadi kurang berperan. Apa yang dulunya hanya gangguan kecil kini dapat memicu emosi negatif.
“Pada dasarnya, alih-alih naik dari nol ke lima, anda mungkin sudah berada di angka enam, sehingga ketidaknyamanan kecil akan membuat anda mencapai angka sepuluh," ujar Ivelevitch.
Terlalu lama merenungkan emosi
Jika berada dalam mode bertahan hidup, kita mungkin mendapati diri merenungkan emosi negatif lebih dari biasanya. Sangat sedikit emosi positif yang muncul.
Meskipun tidak apa-apa untuk merasakan emosi ini dari waktu ke waktu, Dr. Sreshtha mencatat bahwa merenungkan emosi tersebut terlalu lama dapat menyebabkan stres kronis dan masalah kesehatan lainnya.
Baca juga: Ini pengaruh makan timun terhadap kesehatan tubuh
Ingin mengendalikan situasi
Ketika segala sesuatu dalam hidup terasa kacau, kita mungkin mendapati diri mencoba mengendalikan situasi lebih untuk menghilangkan potensi ancaman.
“Seseorang yang biasanya cukup santai mungkin mulai merasa lebih perfeksionis atau merasa perlu segala sesuatunya berjalan persis seperti yang direncanakan,” kata Ivelevitch.
Menurutnya ini bukan upaya untuk mengendalikan orang lain, tetapi upaya untuk menciptakan prediktabilitas.
Dr. Sreshtha kemudian menyampaikan sebenarnya terdapat sebuah cara untuk keluar dari mode tersebut. Biasakanlah untuk berkata pada diri sendiri bahwa semuanya tetap membuat diri kita aman, sambil menarik napas dalam-dalam melalui hidung dan hembuskan kembali melalui mulut.
Perhatikan apa yang ada di sekitar kita sambil melihat, mendengar dan merasakannya. Lalu ulangi berkata pada diri sendiri bahwa kita aman.
“Ini sangat efektif untuk membantu orang beralih dari mode bertahan hidup ‘lawan atau lari’, di mana sistem saraf simpatik mereka diaktifkan dan mengalihkan mereka ke sistem saraf parasimpatik,” kata Dr. Shrestha.
Baca juga: Psikolog anjurkan ambil jeda ketika emosi naik saat main medsos
Pewarta: Hreeloita Dharma ShantiEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.