Tangerang (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang tidak produktif, seperti bekas pabrik di Jatiuwung, menjadi lahan pertanian sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan, sekaligus mendukung pengendalian inflasi daerah.

Asisten Daerah (Asda) II Pemerintah Kota Tangerang Ruta Ireng di Tangerang, Jumat, mengatakan dari total luas wilayah Kota Tangerang sekitar 18.000 hektare, saat ini terdapat sekitar 460 hektare lahan yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian atau hampir dua persen dari luas wilayah.

"Memang jumlahnya belum besar, tetapi ini menjadi langkah penting untuk mempertahankan keberadaan lahan pertanian di tengah pesatnya pembangunan kota," ujar Ruta pada Festival Jagung Nusantara di Jatiuwung Kota Tangerang, Jumat.

Baca juga: Generasi muda diajak berperan lebih besar wujudkan kedaulatan pangan

Menurutnya, keberhasilan mengubah lahan bekas pabrik di Jatiuwung menjadi area pertanian menunjukkan bahwa lahan-lahan yang sudah tidak produktif masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali.

"Ke depan kami berharap semakin banyak lahan tidak produktif yang dapat dialihkan menjadi lahan pertanian sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah," katanya.

Ruta menjelaskan program optimalisasi lahan tersebut juga menjadi salah satu strategi Pemkot Tangerang dalam menekan laju inflasi, terutama untuk komoditas pangan.

Berdasarkan data terbaru, lanjutnya, Kota Tangerang menjadi salah satu daerah dengan tingkat inflasi terendah di Provinsi Banten.

"Melalui Dinas Ketahanan Pangan, kami terus melakukan berbagai upaya agar inflasi tetap terkendali. Salah satunya dengan memperkuat sektor pangan, meskipun kontribusi produksi pertanian lokal masih bersifat sebagai penunjang kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Baca juga: Pemuda Tani Indonesia targetkan tanam jagung di lahan 20.000 hektare

Meski demikian Ruta mengakui pasokan pangan Kota Tangerang hingga saat ini masih banyak bergantung pada kelancaran distribusi dari daerah lain.

Menurutnya, keberadaan pusat distribusi seperti Pasar Induk Tanah Tinggi dan Pasar Anyar menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga bahan pokok.

"Saat rapat bersama Tim Pengendalian Inflasi Nasional (TPIN), komoditas yang paling sering mengalami kenaikan harga adalah cabai dan bawang. Karena itu, selain meningkatkan produksi lokal, kami juga mengandalkan sistem distribusi yang baik agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dan harga tetap stabil," kata Ruta.

Baca juga: Harga jagung pipilan di Lebak alami kenaikan

Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia Budisatrio Djiwandono mengatakan upaya menjaga lahan pertanian membutuhkan keberpihakan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melalui kebijakan yang melindungi lahan produktif dari alih fungsi yang tidak terkendali.

Hal tersebut terkait semakin berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan, terutama di wilayah perkotaan. Meski pembangunan terus berjalan, menurutnya, lahan tidur yang masih tersedia harus dioptimalkan kembali menjadi lahan produktif untuk mendukung produksi pangan.

"Kita harus membangun kesadaran bersama bahwa pangan adalah kebutuhan utama. Kalau masih ada lahan tidur yang bisa dimanfaatkan menjadi lahan produktif, maka sebaiknya dijaga dan dikelola bersama," ujarnya.

Baca juga: Polda Banten manfaatkan lahan bekas tambang untuk tanam jagung



Pewarta: Achmad Irfan
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026