Tangerang (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amaliah menilai penguatan pendidikan terkait perubahan iklim bagi generasi muda membutuhkan komitmen anggaran yang kuat serta konsistensi kebijakan kurikulum yang berkelanjutan dari pemerintah.

"Integrasi perubahan iklim ke dalam pendidikan tidak boleh berhenti di tingkat sekolah dasar saja, melainkan harus konsisten hingga SMP dan SMA," kata Ledia dalam keterangan di Tangerang Kamis

Menurut Ledia, Indonesia sebenarnya telah memiliki landasan regulasi yang kuat, yakni Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang menitikberatkan pada riset berdampak. Jika pemerintah memandang isu perubahan iklim sebagai hal krusial, maka programnya harus diletakkan dalam rencana induk pendidikan nasional.

Baca juga: MAN IC Serpong jadi madrasah pertama raih kurikulum IBDP

Selain aspek kurikulum dan pemahaman guru sebagai ujung tombak perubahan perilaku siswa, ia juga menyoroti pentingnya standardisasi infrastruktur sekolah yang ramah dan adaptif terhadap iklim lokal.

"Sangat memprihatinkan jika karena atap seng dan cuaca ekstrem panas, anak-anak terpaksa diliburkan dan kehilangan hak belajar. Harus ada standar bangunan sekolah yang dipikirkan untuk spesifikasi setiap daerah, tidak bisa dipukul rata," ujarnya. 

Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Prof. Dr. Yudi Darma menyatakan pihaknya terus mendorong ekosistem kampus dan para peneliti agar menghasilkan riset yang relevan dengan kebutuhan riil masyarakat.

"Kami sangat mendorong dosen dan peneliti memikirkan solusi dari masalah di sekitar. Kemendikti Saintek sendiri telah meluncurkan sejumlah program living lab seperti SEMESTA, IN SAINTEK, dan BESTARI SAINTEK, serta mengoptimalkan pendanaan LPDP untuk riset perubahan iklim yang menjadi prioritas utama Presiden," kata Yudi.

Baca juga: Cegah degradasi moral, MAN 1 Lebak terapkan Kurikulum Berbasis Cinta

Ahli Manajemen Risiko Bencana dari PREDIKT, Yusra Tebe mengungkapkan, pendekatan edukasi perubahan iklim melalui media permainan papan (board games) menjadi salah satu inovasi konkret untuk menjembatani teori dan praktik bagi anak-anak usia sekolah.

Inovasi board games ini dirancang melalui kolaborasi peneliti Indonesia dan Australia, serta dikembangkan bersama (co-create) oleh anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan anak-anak di Sekolah Harkaway, Victoria, Australia.

"Kenapa menggunakan board games, supaya anak-anak dan guru bisa belajar perubahan iklim melalui permainan sehingga lebih menyenangkan. Anak-anak menjadi fokus utama karena merekalah penentu kebijakan, arah, dan masa depan," kata Yusra.

Senior Specialist Perlindungan Anak dan Advokasi ChildFund, Reny Rebeka Haning menambahkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan merasakan dampak langsung dari perubahan iklim, terutama anak-anak penyandang disabilitas yang memikul kerentanan ganda.

Berdasarkan uji coba yang dilakukan PREDIKT di Sekolah Luar Biasa (SLB) di NTT, anak-anak disabilitas mampu menceritakan pengalaman mereka secara gamblang mengenai dampak iklim ekstrem yang mengganggu kehidupan mereka.

"Agar riset dan alat peraga seperti board games ini benar-benar aplikatif, harus ada panduan praktis yang spesifik serta program pelatihan guru yang berkelanjutan, khususnya dalam menjawab kebutuhan anak disabilitas," tegas Reny.

Baca juga: Sekolah Rakyat terpadu Lebak terapkan kurikulum matrikulasi



Pewarta: Achmad Irfan/Mulyana
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026