Serang (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten mencatat adanya pertumbuhan positif pada penggunaan instrumen uang elektronik dan berbagai kanal pembayaran digital lainnya di wilayah tersebut pada triwulan pertama tahun 2026.

Deputi Direktur BI Banten Agus Sumirat di Serang, Senin, mengatakan tren digitalisasi sistem pembayaran di tengah masyarakat terus menunjukkan grafik peningkatan seiring dengan perubahan gaya hidup yang semakin mengandalkan transaksi non tunai.

"Dari sisi sistem pembayaran, instrumen seperti ATM, uang elektronik, hingga kartu kredit secara umum mengalami peningkatan. Namun, yang pertumbuhannya sangat besar dan mendominasi adalah penggunaan QRIS sebagai kanal pembayaran digital," kata Agus.

Baca juga: Program MBG di Banten putar ekonomi hingga Rp1 miliar per SPPG

Agus menjelaskan, transaksi digital kini bukan lagi hal yang eksklusif, melainkan telah menjadi budaya yang diadopsi secara luas oleh masyarakat Banten.

Saat ini, jumlah pengguna QRIS di Banten telah mencapai sekitar 3,25 juta pengguna dengan jumlah merchant sebanyak 2,73 juta. Angka tersebut menyumbang porsi sekitar 6,15 persen terhadap total nasional.

Volume transaksi QRIS tumbuh melesat hingga 79,55 persen secara year on year (yoy), sedangkan nominal transaksinya meningkat sebesar 45,25 persen.

Pertumbuhan sistem pembayaran digital ini, lanjut Agus, masih sangat ditopang oleh aktivitas di kawasan aglomerasi. Peningkatan digitalisasi pembayaran, khususnya QRIS, didominasi oleh wilayah Tangerang Raya dengan porsi mencapai 70 hingga 80 persen.

Baca juga: Presiden Prabowo restui tujuh strategi Bank Indonesia perkuat nilai rupiah

Geliat transaksi elektronik yang tinggi ini turut memengaruhi perilaku perbankan masyarakat. BI Banten melihat adanya tren pergeseran instrumen simpanan masyarakat dari deposito beralih ke giro.

"Terlihat ada pergeseran dari deposito ke giro. Hal ini dikarenakan dari sisi giro likuiditas nya lebih cepat, sehingga memudahkan masyarakat maupun pelaku usaha dalam melakukan transaksi harian," ujar dia.

Di samping sistem pembayaran, Agus juga memaparkan kinerja intermediasi perbankan di Banten yang tetap solid. Penyaluran kredit, khususnya di sektor produktif komersial, mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi.

Peningkatan penyaluran kredit tersebut diimbangi dengan risiko yang tetap terkelola dengan baik. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang sedikit mengalami penyesuaian dari 2,92 persen menjadi 2,97 persen, angka yang masih tergolong sangat aman dan stabil bagi industri perbankan di daerah tersebut.

Baca juga: Bank Banten targetkan laba Rp75 miliar pada 2026



Pewarta: Desi Purnama Sari
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026