Kabupaten Tangerang (ANTARA) - Wakil Bupati (Wabup) Tangerang, Banten, Intan Nurul Hikmah mengatakan Hari Kartini merupakan momentum penting untuk terus mewujudkan semangat perjuangan emansipasi Raden Ajeng (RA) Kartini yang memberikan inspirasi bagi perempuan.
"Hari Kartini saya maknai sebagai pengingat bahwa emansipasi bukan peristiwa selesai, melainkan proses historis yang harus terus diperjuangkan," ucap Wabup Intan di Tangerang, Selasa.
Ia mengatakan RA Kartini merupakan sosok yang melakukan emansipasi dan memperjuangkannya melalui cara-cara yang baik, dimana ketekunannya dalam mendorong perempuan untuk berani mengambil langkah dan memastikan akses maupun kesempatan yang setara benar-benar terwujud, bukan hanya secara simbolik tetapi juga struktural dalam kebijakan.
"Ini menunjukkan bahwa perjuangan 'Kartini' hari ini adalah memastikan akses dan kesempatan yang setara benar-benar terwujud," ucapnya.
Baca juga: PBI Banten ajak perempuan lestarikan kebaya sebagai identitas bangsa
Intan menyebut salah satu contoh keberhasilan perjuangan RA Kartini adalah terwujudnya partisipasi perempuan dalam pembangunan daerah saat ini, khususnya di Kabupaten Tangerang, yang mana perempuan berperan sebagai motor sosial-ekonomi yang signifikan.
"Secara nasional, UMKM didominasi perempuan hingga sekitar 60 persen dan ini juga tercermin di daerah seperti Tangerang. Artinya, perempuan tidak hanya berkontribusi, tetapi menjadi fondasi ekonomi kerakyatan yang menopang stabilitas dan pertumbuhan daerah," ujarnya.
Selain itu semangat perjuangan Kartini juga harus terus diwujudkan dalam dunia politik, representasi perempuan di parlemen Indonesia saat ini baru sekitar 20 sampai 21 persen, masih di bawah target afirmasi 30 persen.
Kendati hal ini menjadi refleksi bahwa perempuan harus terus didorong tidak hanya hadir tetapi juga memimpin.
Sebagai pemangku kebijakan di Kabupaten Tangerang, pihaknya kini tengah memfokuskan pada tiga program utama untuk perempuan, antara lain pemberdayaan ekonomi, perlindungan, dan peningkatan kapasitas.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga RJBB dorong pertumbuhan UMK lewat SMEXPO Kartini 2025
Menurutnya, langkah-langkah ini selaras dengan data bahwa Indeks Pemberdayaan Gender Indonesia (IDG) masih berada di kisaran 70-an, yang menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam partisipasi ekonomi dan politik.
"Karena itu program ke depan menekankan pelatihan kewirausahaan, akses permodalan, serta penguatan perlindungan hukum bagi perempuan," katanya.
Ke depan, lanjut Intan, peran perempuan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari statistik pembangunan, tetapi menjadi penentu arah pembangunan itu. Dengan proyeksi bonus demografi Indonesia, kualitas perempuan baik dalam pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi akan sangat menentukan apakah kita menjadi bangsa yang maju atau tertinggal.
"Tantangan terbesar adalah ketimpangan yang bersifat ganda, struktural, dan kultural. Data menunjukkan perempuan masih menghadapi kesenjangan upah sekitar 20–30 persen dibanding laki-laki, serta beban ganda dalam ranah domestik dan publik. Di era digital, tantangan juga bertambah dengan meningkatnya kekerasan berbasis online yang menyasar perempuan," kata dia.
Baca juga: Tinawati Andra Soni komitmen dampingi perempuan desa untuk berkarya
Pewarta: Azmi Syamsul Ma'arifEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026