Lebak (ANTARA) - Peneliti Leiden University Belanda Jet Bakels bertekad melestarikan budaya masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, karena mencintai keseimbangan alam dan harmonisasi sejak nenek moyang zaman Padjadjaran.

"Kita berharap budaya masyarakat Badui tetap lestari di tengah gempuran modernisasi, seperti suku-suku terasing di dunia," kata Jet Bakels saat ditemui di Gedung Museum Multatuli Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Jumat.

Pelestarian masyarakat Badui itu, tergantung keinginan pilihan mereka ke depan termasuk apakah dibolehkan orang asing berkunjung ke Badui atau tidak.

Saat ini, juga banyak turis, baik domestik dan mancanegara mengunjungi masyarakat Badui di Kanekes.

Keunikan dan kehidupan masyarakat Badui hingga kini masih bertahan, seperti lingkungan permukiman hak ulayat adat Badui tanpa infrastruktur penerangan listrik, jalan permanen, pendidikan, kesehatan dan tidak terdapat peralatan elektronika.

Baca juga: Masyarakat Suku Badui siap jalani tradisi Seba 24-26 April

Selain itu, juga kondisi rumah mereka sederhana terbuat dari bambu dan kayu serta atap rumbia maupun ijuk pohon aren.

Kehidupan masyarakat Badui cukup damai, harmonis serta menjaga hutan-hutan tetap hijau dan lestari , karena memberikan kelanjutan hidup manusia.

Kawasan hutan adat terjaga dengan baik, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang bisa menyebabkan bencana ekologis.

"Kami melihat ajaran nenek moyang masyarakat Badui dari zaman Hindu Padjadjaran hingga kini tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga hutan adat agar tidak rusak," katan Jet Bakels yang melakukan penelitian kebudayaan masyarakat Badui pada 1984.

Baca juga: Dinkes Lebak dan Banten beri layanan CKG bagi masyarakat Badui

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Banten, Yosep Muhamad Holis mengatakan pemerintah daerah hingga kini tetap melestarikan budaya masyarakat Badui di antaranya acara perayaan Seba yang dilaksanakan setiap tahun, setelah mereka menjalani puasa Kawalu.

Perayaan budaya Seba Badui itu adalah menyerahkan hasil bumi kepada kepala daerah (bupati -gubernur) sebagai ucapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa bakal berlangsung 24-26 April.

"Saya kira perayaan Seba Badui itu dapat menarik wisatawan dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat," katanya menjelaskan.

Baca juga: Guna pelestarian alam, masyarakat Suku Badui wajib jaga hutan lindung

Pewarta: Mansyur suryana
Editor : Bayu Kuncahyo

COPYRIGHT © ANTARA 2026