Tangerang (ANTARA) - Wakil Wali Kota Tangerang, Banten, Maryono Hasan mengatakan pola pendidikan pada era digital perlu bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menjadi proses pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis dan mandiri.
Ia mengatakan di tengah era digitalisasi kreativitas anak akan terus berkembang secara alami. Oleh karena itu dibutuhkan dukungan agar mereka mampu mengembangkan kemampuan dan potensinya secara optimal.
“Anak-anak kita tumbuh di era yang serba cepat. Mereka membutuhkan ruang belajar yang mendorong untuk bertanya, berkolaborasi, serta menemukan dan memahami pengetahuan secara mandiri,” kata Maryono Hasan di Tangerang, Minggu.
Baca juga: PP Tunas cetak generasi berakhlak dan berkarakter
Oleh karena itu Pemkot Tangerang mendorong transformasi pendidikan dengan menitikberatkan pada peningkatan kompetensi guru sebagai investasi utama dalam dunia pendidikan.
Harapannya, kata dia, tenaga pendidik mampu mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi kebutuhan siswa serta memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah, sekaligus menjawab tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks.
“Jadikan kelas sebagai ruang inovasi dan jadilah agen perubahan. Guru yang terus belajar dan terbuka terhadap inovasi adalah kunci lahirnya generasi unggul, yang siap menjadi pemimpin masa depan,” ujarnya.
Baca juga: Ratu Zakiyah dukung pembatasan akses medsos anak di bawah 16 tahun
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tangerang Wahyudi Iskandar menambahkan keberhasilan implementasi kebijakan ini memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak, tidak hanya tenaga pendidik tetapi juga orang tua dan masyarakat secara luas.
“Pengendalian dari orang tua menjadi sangat penting dan krusial. Dengan edukasi yang tepat, apa yang dilihat dan dibaca anak-anak dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan mereka,” kata Wahyudi.
Kehadiran PP Tunas, lanjut dia, juga salah satu indikator yang bisa mendorong siswa lebih kreatif dan banyak melakukan interaksi dengan temannya.
Ia menyebut regulasi ini tak hanya mengatur ekosistem digital yang aman dan sehat bagi anak-anak, tetapi juga menghidupkan lagi kreativitas siswa.
"Tenaga pendidik sudah diberikan pemahaman mengenai kebutuhan dan kondisi zaman yang bisa disesuaikan dalam setiap metode belajar," ujarnya.
Baca juga: Kata pendidik, pembatasan akses ke medsos jadikan anak fokus belajar
Pewarta: Achmad IrfanEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026