Palu (ANTARA) - Jenis megalit berusia 1.000 tahun yang ditemukan warga Desa Dongi-Dongi, Kabupaten Poso, Provibsi Sulteng diduga dirusak oleh penambang ilegal.
"Hari Kamis (5/3) sekitar jam 10 pagi, kami temukan sudah dirusak," kata sumber yang dihubungi dari Palu, Jumat.
Dia menjelaskan sehari sebelumnya, Rabu (4/3), pihaknya telah melakukan survei ke lokasi temuan, dan menemukan megalit itu dalam kondisi baik.
Namun, sehari setelah survei dilakukan, ditemukan kondisi megalit sudah rusak. Di sekitar lokasi situs megalitikum terdapat tambang emas, dengan beberapa unit eksavator.
Baca juga: Situs Gunung Padang Cianjur mulai dipugar tahun ini
Sementara, situs megalitikum itu berada di dalam wilayah Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), yang juga masuk daftar tentatif UNESCO untuk warisan budaya megalitik Lore Lindu.
Megalit (batu besar) adalah struktur atau monumen prasejarah yang didirikan menggunakan batu berukuran besar, baik tunggal (monolit) maupun susunan, yang berkembang dari zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu.
Megalit berfungsi sebagai penanda kubur, ritual keagamaan, atau pemujaan leluhur, contohnya meliputi menhir, dolmen, dan sarkofagus.
Baca juga: Ketua BPPI apresiasi Pemkot Tangerang rawat situs sejarah Taruna
Megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi merupakan batu berukuran besar, yang memiliki pahatan menyerupai wajah manusia, mirip dengan batu kalamba yang banyak ditemukan di Lembah Napu.
Sementara itu, Ahli Arkeolog Sulawesi Tengah Iksam Djorimi memperkirakan, megalit yang ditemukan di Desa Dongi-Dongi berusia sekitar 1.000 tahun.
"Perkiraan 1.000 tahun untuk usia megalit itu," katanya dihubungi di Palu, Jumat.
Dia menjelaskan penyebaran situs megalit dimulai Lembah Behoa dan Bada, Kabupaten Poso ke arah utara hingga Lembah Palu. Dimana, situs megalitikum yang yang berada di Lembah Behoa dan Bada, Poso, diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun.
Baca juga: Sembilan orang tewas tertimpa pohon di situs Bulu Matanre Soppeng
Pewarta: FauziEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.