Lebak (ANTARA) - Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Trisakti (Usakti) Jakarta melakukan Pemberdayaan Pedagang Badui untuk produksi Jajanan Bergizi Anak Badui (Jazanduy) guna menurunkan prevalensi stunting pada anak Badui.
Mereka tim PKM Usakti Jakarta itu beranggotakan dari multidisiplin yakni dr.Revalita Wahab, M.Pd.Ked, Charles Soegiarto Marpaung, S.Sn, M.Ds., dr.Nathalia Ningrum, Sp.A,AIFO-K, Maulana Malik Hidayat, Maya Dafina, dan Philip.
Kecamatan Leuwidamar salah satu dari 28 kecamatan di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten yang terdiri dari 12 desa.
Dari 12 desa tersebut salah satunya terdapat Desa Kanakes di Kecamatan Leuwidamar dengan luas wilayah 5.212 hektar, merupakan tanah hak ulayat adat masyarakat Suku Badui.
Baca juga: Pemkab Lebak optimalkan layanan mobil perpustakaan keliling
Populasi masyarakat Badui sebanyak 9.558 jiwa dan sumber mata pencaharian nya adalah pertanian/perkebunan dan perdagangan.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, rata-rata proporsi balita sangat Pendek (Stunded) di Indonesia adalah 21,6 persen.
Prevalensi balita stunting di Kabupaten Lebak mencapai 26,2 persen, dengan angka stunting tertinggi di Kecamatan Cirinten (11,0 persen), Kecamatan Rangkasbitung (10,8 persen), dan Kecamatan Curugbitung (10,2 persen) .
Sementara prevalensi balita dengan berat badan kurang di Kabupaten Lebak di atas prevalensi rata-rata Provinsi Banten.
Sebagian besar penduduk Desa Kanekes tidak berpendidikan, sebagian besar keluarga mereka berada di tingkat pra sejahtera dan keluarga sejahtera tahapan 1 sebesar 39 persen, angka penderita gizi buruk dan jumlah bayi meninggal yang cukup banyak.
Anak- anak Badui sebelumnya tumbuh dengan konsumsi makanan tradisional seperti singkong, ubi, atau hasil hutan. Namun seiring dengan perkembangan pariwisata Badui, kini anak-anak Badui mulai mengenal dan membeli jajanan modern.
Baca juga: Tokoh adat minta pelaku begal warga Badui serahkan diri
Makanan yang dijual pedagang di wilayah Badui seperti snack, keripik, mi instan, teh kemasan dan minuman berwarna lainnya. Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pemberdayaan Pedagang Badui untuk produksi Jazanduy.
Karena itu, tim PKM Usakti Jakarta melakukan Pemberdayaan Pedagang Badui untuk produksi Jazanduy sebagai Upaya Penurunan Angka Stunting Di Badui Lebak, Banten.
Tim ini menyampaikan salah satu strategi penurunan stunting (1) edukasi dan promosi kesehatan (2) pemberdayaan pedagang dengan melatih membuat jajanan yang sehat dan aman (3) pengembangan kewirausahaan (4) pemantauan dan evaluasi berkala.
Penyuluhan jajanan sehat
dr. Nathalia Ningrum menyatakan beberapa solusi pertama memberikan penyuluhan tentang jajanan sehat yang tinggi gula, garam, pewarna buatan yang dapat berdampak kepada status gizi dan kesehatan anak jika dikonsumsi secara berlebihan.
Agar anak-anak tidak mengonsumsi jajanan sehat tersebut diharapkan terdapat jajanan sehat berbahan lokal dari Badui yang alami dan bergizi.
Selanjutnya dr.Revalita Wahab menyampaikan terdapat peningkatan pengetahuan jajanan sehat pada PKM dari sebelum dan sesudah penyampaian materi penyuluhan.
Baca juga: 340 desa dan kelurahan di Lebak deklarasi pencegahan TBC
Menurut dr. Revalita Wahab, pengetahuan pengolahan bahan lokal menjadi jajanan camilan yang bergizi perlu dilakukan pelatihan pembuatan aneka olahan makanan sehat berbahan baku ampas tahu, ikan, ayam, telur yang dikemas kreatif.
Hasil olahan bahan lokal dapat menjadi makanan yang bergizi yang disukai anak-anak. Beberapa produk jajanan yang diajarkan dalam pelatihan ini seperti Magang (Makaroni Panggang), Naath (Nugget Ayam Tahu), SiMayan (Siomay Ayam Ikan), Kolaren (Kukis Gula Aren), Bolang (Bolu Pisang), dan lainnya.
Sedangkan, Charles mengatakan, pengemasan kreatif menjadi jajanan menarik yang nantinya dapat dijual yang sebagai salah usaha pengembangan kewirausahaan.
Charles mengatakan, kemasan yang kreatif dapat terbuat dari daun pisang dan besek bambu dapat menjadi daya tarik tersendiri, yakni Ramah Lingkungan terbuat dari bahan alami, mudah terurai, tanpa plastik.
Aman untuk Anak bebas bahan kimia, tidak mencemari makanan. Menjaga Rasa & Gizi – daun pisang menjaga aroma dan kesegaran jajanan. Khas Tradisional – mempercantik tampilan dengan sentuhan budaya Badui. Mudah di dapat – Bahan mudah didapat pada daerah Badui, tidak menghabiskan biaya.
Baca juga: Meski banjir mulai surut BPBD-PK Pandeglang minta warga tetap waspada
Pemasaran Jazanduy
Charles menambahkan untuk meningkatkan pemasaran Jazanduy dapat diberikan pelatihan kewirausahaan berguna untuk memberikan pemahaman proses produksi, alur pasok, mitra, penentuan harga hingga channel promosi produk.
Produk akan dikemas dengan merek yang diambil dari bahasa lokal yang menarik sehingga konsumen tertarik untuk membeli.
Keterampilan pemasaran bagi pedagang masih sangat terbatas karena konsep berjualan yang dimiliki hanya terbatas pada menunggu konsumen datang ke lapak mereka.
Pelatihan pemasaran ini dimaksudkan agar pedagang mengenali siapa calon konsumen dan bagaimana upaya pedagang jajanan meyakinkan konsumen untuk membeli produk “Jazanduy”.
Lebih lanjut program PKM ini merupakan Hibah Pendanaan Pengabdian Kepada Masyarakat Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun Anggaran 2025.
Tiga ahli yang berasal dari dari Fakultas Kedokteran dan Fakultas Seni Rupa dan Desain dengan keahlian yang saling melengkapi membentuk Tim PKM, yaitu dr.Revalita Wahab, M.Pd.Ked, Charles Soegiarto Marpaung, S.Sn, M.Ds., dr.Nathalia Ningrum, Sp.A,AIFO-K, didukung oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Maulana Malik Hidayat, mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain serta Maya Dafina, dan Philip.
Kegiatan ini didukung oleh pemerintah daerah dan puskesmas setempat, serta masyarakat Badui yang sangat aktif selama pelaksanaan PKM ini.
Baca juga: BPBD-PK Pandeglang petakan daerah rawan bencana
