Serang (ANTARA) - Wakil Menteri Hukum RI, Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, memberikan pemahaman kepada civitas akademika di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Kamis terkait dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru yang menjadi tonggak reformasi hukum nasional.
Kehadiran Wamenkum menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan proses reformasi hukum pidana berjalan inklusif, transparan, dan partisipatif.
Dalam paparannya, Wamenkum menegaskan bahwa KUHP nasional membawa paradigma baru dengan menekankan keadilan korektif, restoratif, dan rehabilitatif.
“KUHP baru ini bukan sekadar mengganti pasal-pasal lama, tetapi menghadirkan cara pandang baru dalam hukum pidana. Hukum pidana tidak lagi sebagai alat balas dendam, melainkan sarana mewujudkan keadilan yang lebih humanis dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata Prof. Edward dalam keterangan resmi yang diterima media.
Baca juga: Kapolda Banten tekankan pentingnya penyempurnaan KUHAP
Ia menambahkan, dalam KUHP baru, pidana penjara tidak lagi menjadi pilihan utama.
“Hanya tindak pidana serius yang dirancang untuk lima tahun ke atas yang dipidana penjara. Untuk tindak pidana singkat, tersedia alternatif pidana pengawasan, kerja sosial, dan denda. Ini adalah wujud keadilan korektif dan restoratif yang kita dorong bersama,” tegasnya.
Gubernur Banten melalui Asisten Daerah (ASDA) III, Deni Hermawan, turut menyampaikan dukungan penuh Pemprov Banten terhadap implementasi KUHP baru. Menurutnya, KUHP ini merupakan tonggak bersejarah karena Indonesia tidak lagi bergantung pada hukum peninggalan bangsa lain.
“Sosialisasi ini penting untuk membangun pemahaman bersama, sehingga penegakan hukum dapat lebih efektif dalam menciptakan masyarakat yang tertib, beradab, dan taat hukum,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Banten, Pagar Butar Butar, menegaskan bahwa sosialisasi KUHP menjadi langkah nyata untuk menyatukan persepsi aparatur penegak hukum dan menumbuhkan kesadaran hukum di tengah masyarakat.
Baca juga: Pakar hukum di Banten ikut bicara soal isu revisi KUHAP
“Momentum ini tidak sekadar forum akademis, melainkan wujud komitmen bersama memperkuat reformasi hukum pidana yang inklusif, transparan, dan partisipatif,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kanwil Kemenkum Banten dengan tujuh perguruan tinggi di Banten, yakni: Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Universitas Islam Negeri (UIN) SMH Banten, Universitas Primagraha, Universitas Serang Raya (Unsera), Universitas Bina Bangsa, Universitas Pamulang (Uunpam), dan Universitas Mathla’ul Anwar (UNMA).
Diketahui, sosialisasi ini dihadiri lebih dari 1.500 peserta, baik secara langsung maupun daring, terdiri dari civitas akademika, aparat penegak hukum, organisasi profesi hukum, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Baca juga: Kemenkum Banten persiapkan sosialisasi KUHP baru untuk mahasiswa dan APH
