Tangerang (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten menyinergikan penyelenggaraan Sharia Festival Jawara (Shafara) dan Festival Rupiah Banten (Ferba) 2025 sebagai strategi utama untuk mendongkrak kapasitas dan omzet Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) syariah di daerah tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Ameriza M Moesa di Tangerang, Jumat, mengatakan BI berperan sebagai orkestrator yang menghubungkan berbagai lembaga untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kemajuan UMKM syariah.
"Kami mengorkestrasi sebagai konduktor, supaya kegiatan syariah ini bisa semakin berkembang melalui sinergi dan kolaborasi," katanya.
Baca juga: Qris resmi digunakan di Osaka dan di Pavilion Indonesia
Acara yang digelar selama tiga hari di Bintaro Jaya Xchange Mall 2, Tangerang Selatan ini merupakan puncak dari program pengembangan kapasitas UMKM yang dilakukan BI Banten secara berkelanjutan. Dukungan tersebut mencakup pendampingan intensif, peningkatan kualitas produk, hingga perluasan akses pasar.
Salah satu strategi utama untuk mendorong UMKM naik kelas adalah melalui program business matching.
"Strateginya, UMKM dari pesantren yang belum siap jual langsung kita pertemukan dengan agregator dulu. Agregator ini yang menjaga quality control dan volume, baru berhubungan dengan buyer (pembeli)," jelasnya.
Saat ini, ia mengatakan BI Banten secara intensif membina empat pesantren dan menargetkan jumlah tersebut terus bertambah sebagai salah satu indikator kinerja utama.
Baca juga: Konjen Osaka: ada QRIS wisatawan tak perlu cari tempat penukaran uang
Ameriza mengaku optimistis prospek bisnis syariah di Banten sangat besar, didukung oleh daya beli masyarakat yang kuat dan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup halal. Hal ini terbukti dari keberhasilan acara sebelumnya yang melampaui target transaksi Rp2 miliar hingga mencapai Rp3,1 miliar.
"Tahun ini kita naikkan lagi target nya menjadi Rp3 miliar, mudah-mudahan bisa mencapai Rp4 miliar lebih," katanya, menambahkan.
Sinergi dengan Festival Rupiah (Ferba), lanjutnya, tidak hanya bertujuan untuk mendorong transaksi ekonomi, tetapi juga untuk mengangkat budaya dan sejarah lokal, seperti keberadaan Museum Multatuli dan fakta bahwa Banten pernah memiliki mata uang sendiri pada 1947, agar animo masyarakat semakin meningkat.
Baca juga: Perekonomian Banten tumbuh 5,33 persen, lampaui nasional
Pewarta: Desi Purnama SariEditor : Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © ANTARA 2026