Lebak, Banten (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat mengapresiasi angka stunting di Provinsi Banten menurun 20,1 persen sehingga memastikan target 14 persen 2024 bisa direalisasikan sesuai harapan Presiden Joko Widodo.
"Alhamdulillah, kasus stunting di Banten itu menurun," kata Kepala BKKBN Pusat dr Hasto Wardoyo saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Percepatan Penurunan Stunting secara online di Lebak, Banten, Selasa.
Keberhasilan percepatan penurunan stunting di Banten itu hasil kerja keras semua pihak yang terlibat dengan berbagai instansi, lembaga, masyarakat dan tokoh agama.
Percepatan penurunan prevalensi stunting itu lebih kuat dengan melibatkan semua pihak dan saling bekerja.
Selama ini, penanganan percepatan kasus stunting di Banten cukup baik, namun pihaknya meminta pemerintah daerah setempat agar mengawal angka kehamilan ibu muda masih tinggi.
Kehamilan ibu muda di Banten hingga mencapai 246 ribu lebih dan berpotensi menimbulkan stunting sekitar 50 ribu, sehingga perlu dilakukan pengawasan maupun pendampingan.
Pengawasan harus dilakukan agar penanganan percepatan penurunan stunting dikendalikan hingga target 14 persen sesuai target Bapak Presiden Jokowi.
"Kita mengapresiasi kerja keras pemerintah Banten dengan menurunya kasus stunting 20,1 persen," katanya menjelaskan.
Ia mengatakan, selama ini, BKKBN memiliki kewenangan untuk penanganan kualitas generasi bangsa yang berkualitas, karena menjadi arahan Bapak Presiden Joko Widodo pada Rakornas Percepatan Penurunan Stunting.
Selain itu juga BKKBN memastikan angka kasus stunting di Indonesia menurun, karena angka kelahiran saat ini rata-rata 2,14 persen, artinya kaum perempuan yang melahirkan tidak begitu banyak.
Begitu itu juga pemakaian kontrasepsi Keluarga Berencana sudah di angka 56 persen pada pasangan usia subur (PUS).
Data-data itu tentu penanganan percepatan penurunan kasus stunting harus secepatnya, terlebih menghadapi demografi 2035.
Dimana demografi tahun 2035 itu akan banyak usia menua dan hidupnya tidak sejahtera, sehingga anak-anak muda harus bekerja keras juga berupaya untuk melahirkan generasi muda bangsa yang hebat dan minimal mereka tidak menjadi generasi lemah juga tidak menjadi beban orang lain.
Dengan demikian, pihaknya mendorong generasi muda agar bekerja keras untuk bersaing di tingkat internasional.
Saat ini, ujar dia, kemampuan intelektual masyarakat Indonesia dengan negara-negara lain nomor urut 130 dari 199 negara.
Generasi muda harus optimistis dan berupaya kerja keras untuk meningkatkan kualitas intelektual, sehingga pelaksanaan penurunan percepatan stunting harus secepatnya direalisasikan.
Begitu pula kompetensi angka tenaga kerja Indonesia di tingkat Asia Tenggara nomor 6 dan menjadikan koreksi.
Karena itu, anak-anak harus cerdas dan terpenuhi asupan gizi yang baik dan tidak sakit-sakitan, sehingga bisa terkoreksi.
"Itu menjadikan perjuangan tinggi untuk meningkatkan intelektual, karena saat ini ketrampilan skill tenaga kerja Indonesia kalah jauh dibandingkan negara-negara lain," katanya menjelaskan
Ia mengatakan pada tahun 2035 demografi bangsa ini tentu jangan kaget jika penduduknya banyak yang menuai dan generasinya sedikit juga angka kelahiran serta kehamilan relatif rendah.
Kondisi demikian, tentu harus hati-hati dan waspada, sehingga percepatan penurunan stunting harus dikendalikan,sebab saat ini angka stunting secara nasional masih angka 21,65 persen.
"Kami berharap angka stunting di Banten itu bisa menurun di angka 14 persen dengan kerja keras itu," katanya.
Sementara itu, Perwakilan BKKBN Provinsi Banten Rusman Effendi mengatakan keberhasilan percepatan penurunan stunting atas dukungan semua pihak dan komitmen bersama yang menargetkan Banten zero stunting.
Penyebab risiko stunting di Banten itu, karena mereka tidak memiliki jamban, air bersih dan menempati rumah tidak layak huni.
Selain itu juga hamil muda di bawah usia 21 tahun dan hamil tua di atas 35 tahun juga kelahiran anak banyak yang jaraknya berdekatan.
"Kami berharap dengan Rakorda Bangga Kencana Percepatan Penurunan Stunting itu Banten bisa masuk zero stunting atau terbebas kasus stunting," katanya.