PT Dahana (Persero) pada tahun 2019 mencatatkan kinerja ekspor bahan peledak senilai Rp9,6 miliar ke pasar internasional.

Direktur Utama PT Dahana Budi Antono di Jakarta, Selasa menyebutkan pada tahun 2019 ekspor terbesar adalah ke dua negara, yaitu Timor Leste dan Australia.

Ekspor ke Australia dibukukan senilai Rp7,02 miliar, sedangkan ke Timor Leste Rp2,57 miliar. Sebagian bahan peledak tersebut terdiri dari Dayagel Extra sebanyak 209,5 ton kg serta Ammonium nitrate 180 ton.

"Australia sangat tertarik dengan produk bahan peledak kita, karena dinilai memiliki kualitas bagus, namun memiliki harga yang murah dibanding negara lainnya," kata Budi.

Sedangkan untuk rencana ekspor ke depan, perusahaan akan menargetkan Jepang dan Thailand. Sehingga sampai tahun 2024 produk Dahana akan didistribusikan ke empat negara, yaitu Jepang, Thailand, Australia dan Timor Leste.

Pada  2020 ekspor diperkirakan akan mencapai nilai Rp29,64 miliar dengan produk ekspor utama adalah Ammonium Nitrat dan Dayagel Extra. Untuk electric detonator sudah diminati oleh Thailand dan akan dimulai keran ekspornya pada tahun 2021.

Untuk memperkuat komposisi militer dalam menjaga pertahanan, pemerintah Indonesia berinvestasi dengan membangun pabrik propelan.

"Pembiayaan dalam negeri nanti konsep finansialnya, sekitar Rp2 triliun lebih, Presiden sudah setuju bangun pabrik propelan," kata Direktur Utama PT Dahana.

Budi menjelaskan lebih lanjut, keinginan tersebut sudah melalui pembicaraan dengan Kementerian Pertahanan, dan untuk produksi peluru tentara nasional, dibutuhkan propelan sebagai bahan baku utama.

Budi menjelaskan tingkat perbandingan kekuatan saat ini Indonesia memproduksi sekitar 14 butir peluru untuk seorang prajurit per tahun. Jika memiliki pabrik propelan maka perbandingan produksi peluru bisa meningkat beberapa kali lipat.

 

Pewarta: Afut Syafril Nursyirwan

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2019