Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol. Mohammed Rycko Amelza Dahniel mengatakan bahwa implementasi sistem pertanian pintar atau smart farming merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan mitra deradikalisasi dan masyarakat.

"Ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah kepada saudara-saudara kita dalam rangka menyediakan lapangan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan,” kata Rycko dalam keterangan tertulis diterima di Jakarta, Minggu.

Hal itu dikatakan Rycko saat peletakan batu pertama (ground breaking) pertanian pintardi Kawasan Terpadu Nusantara (KTN) Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (27/1). Ini merupakan hasil kolaborasi dengan PT Maharani Saraswati Indonesia (PT MSI).

Peletakan batu pertama KTN Turen ini menandai transformasi 7.564 meter lahan menjadi kebun pembenihan vanili dengan sistem pertanian pintar.

Baca juga: Sembilan napiter Lapas 1 Surabaya ucapkan ikrar setia NKRI

Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan, para pengelola KTN akan menjalani pelatihan dan mendapatkan bimbingan. Karenanya, Rycko berpesan agar KTN Turen tidak hanya dikelola oleh mitra deradikalisasi, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat sekitar.

"Selain mitra deradikalisasi, masyarakat di sini juga harus dilibatkan agar mendapatkan manfaat," ucap Kepala BNPT.

Adapun KTN telah hadir di lima lokasi, yakni di Garut, Jawa Barat; Malang, Jawa Timur; Temanggung, Jawa Tengah; Sumba, Nusa Tenggara Barat; dan Morowali, Sulawesi Tengah. Sejauh ini, kata Rycko, sekitar 60 eks napiter telah diberdayakan melalui program tersebut.

Lebih lanjut, salah satu mitra deradikalisasi Pujianto menyampaikan rasa terima kasih terhadap program deradikalisasi dengan pendekatan kesejahteraan ekonomi yang digagas oleh BNPT ini.

"Kami berterima kasih kepada BNPT dan pihak-pihak yang mengembangkan KTN ini," ujar Pujianto.

Baca juga: 107 eks jaringan JI dan JAD ucap ikrar setia NKRI di Banten

Menurut dia, program tersebut memberikan peluang bagi mitra deradikalisasi dan masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan KTN.

"Dengan inovasi ini, kami dapat memperoleh penghasilan yang dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Kami juga membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi teman-teman mitra (deradikalisasi) dan masyarakat yang ingin berusaha di sini," ujar Pujianto.

Mitra deradikalisasi menilai langkah-langkah ini tidak hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga memberikan kontribusi pada proses deradikalisasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Program KTN yang dicanangkan oleh BNPT diyakini sebagai upaya mengatasi permasalahan ekonomi yang menjadi isu utama bagi para alumni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), terutama eks narapidana terorisme (napiter).

Program yang diterapkan sejak tahun 2022 ini ditujukan agar napiter dapat dengan cepat beradaptasi dengan masyarakat dan tidak terjerat kembali oleh kelompok radikal akibat minim-nya perhatian dari negara.

Baca juga: Ini enam isu penting akhir tahun 2023 menurut BNPT

Pewarta: Fath Putra Mulya

Editor : Bayu Kuncahyo


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2024