Wall Street turun tajam pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), dengan Nasdaq di wilayah koreksi karena saham teknologi memperpanjang kerugian mereka serta investor terus khawatir tentang imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi dan pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve.

Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 339,82 poin atau 0,96 persen, menjadi menetap di 35.028,65 poin. Indeks S&P 500 terpangkas 44,35 poin atau 0,97 persen, menjadi berakhir di 4.532,76 poin. Indeks Komposit Nasdaq anjlok 166,64 poin atau 1,15 persen, menjadi ditutup pada 14.340,26 poin.

Baca juga: Airlangga: Harga minyak goreng Rp14 ribu per liter mulai berlaku besok

Nasdaq ditutup 10,7 persen dari rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada November. Penurunan 10 persen atau lebih dianggap sebagai koreksi untuk indeks saham.

Sembilan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor consumer discretionary dan keuangan masing-masing jatuh 1,81 persen dan 1,65 persen, memimpin penurunan. Sektor teknologi merosot 1,37 persen karena investor terus keluar dari saham-saham yang sedang naik daun.

Sementara itu, sektor bahan pokok konsumen dan utilitas masing-masing terdongkrak 0,68 persen dan 0,46 persen, hanya dua kelompok yang menguat.

Koreksi terakhir Nasdaq terjadi pada awal 2021, ketika indeks saham teknologi itu turun lebih dari 10 persen dari 12 Februari hingga 8 Maret. Ini adalah keempat kalinya dalam dua tahun sejak pandemi virus corona mengguncang pasar global, indeks mengalami koreksi.

Pada Rabu (19/1), saham Apple merosot 2,1 persen, paling membebani Nasdaq, sementara penurunan Tesla dan Amazon juga menyeret indeks Nasdaq.

Saham AS telah memulai dengan awal yang sulit pada 2022, karena kenaikan cepat dalam imbal hasil obligasi pemerintah AS di tengah kekhawatiran The Fed akan menjadi agresif dalam mengendalikan inflasi terutama memukul saham teknologi dan pertumbuhan.

“Setiap awal pengetatan sering mengakibatkan volatilitas yang signifikan dan saya pikir selalu ada risiko bahwa ada kesalahan kebijakan dan itu mengakhiri siklus ekonomi,” kata Kristina Hooper, kepala strategi pasar global di Invesco. "Jadi kami hanya memiliki banyak ketakutan dari ketakutan.”

Investor menantikan pertemuan kebijakan Fed minggu depan untuk kejelasan lebih lanjut tentang rencana bank sentral untuk mengendalikan inflasi. Data minggu lalu menunjukkan harga konsumen AS meningkat dengan kuat pada Desember, yang berpuncak pada kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir empat dekade.

"Ada cukup banyak kecemasan dalam hal bagaimana tiga hingga enam bulan ke depan akan bermain dengan siklus kenaikan suku bunga yang kemungkinan akan dimulai pada Maret," kata Michael James, direktur pelaksana perdagangan ekuitas di Wedbush Securities di Los Angeles.

Dalam berita perusahaan, saham Procter & Gamble melonjak 3,4 persen setelah perusahaan barang konsumsi itu menaikkan perkiraan penjualan tahunannya.

Bank of America Corp melaporkan kenaikan laba kuartalan 30 persen lebih baik dari perkiraan, sementara Morgan Stanley juga melaporkan laba kuartal keempat yang mengalahkan ekspektasi pasar, menyusul hasil yang tidak merata dari bank lain. Saham Bank of America naik 0,4 persen, sementara saham Morgan Stanley naik 1,8 persen.

Sekitar 11,4 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, dibandingkan dengan rata-rata harian 10 miliar selama 20 sesi terakhir.

Pewarta: Apep Suhendar

Editor : Sambas


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2022