Dog!..dog!..dog! demikian bunyi alat musik tradisional yang sering dipergunakan masyarakat Baduy dalam upacara adat tradisional untuk menghormati leluhur mereka.

Dalam perkembangannya alat musik tradisional yang dinamakan "Dogdog Lojor" tidak hanya dipergunakan untuk upacara ritual saja tetapi juga dipergunakan pada acara pesta rakyat, upacara perpisahan, dan pagelaran seni lainnya.

Dogdog Lojor merupakan alat musik yang terbuat dari batang kayu berbentuk bulat. Nama Dogdog itu sendiri diambil dari bunyi yang di hasilkannya berupa dog! ..dog! ..dog!, sedangkan Lojor artinya panjang. Sehingga Dogdog Lojor berarti Dogdog Panjang.

Alat musik Dogdog Lojor terbuat dari batang kayu bulat dengan panjang 90 centimeter yang dibolongi ditengahnya serta dibagi beberapa ruas dengan panjang berbeda  15, 12, dan 13 centimeter untuk menghasilkan nada bunyi yang diinginkan.

Batang kayu tersebut ditutup menggunakan kulit kambing yang sudah kering, kemudian diikat dengan tali bambu, agar pada saat dipukul kulit tersebut tidak cepat lepas atau rusak sehingga bunyi yang di hasilkannya pun bisa dinikmati  biasanya sebagai pengiring lantunan angklung bambu.   

Dogdog lojor biasanya dipergunakan untuk mengiringi  tarian dalam  upacara adat dan ritual-ritual khusus suku pedalaman Baduy dan suku pedalaman yang terdapat di daerah Lebak Selatan untuk merayakan ritual adat seren taun.

Ritual tersebut merupakan bentuk penghormatan atas hasil bumi yang didapat  tersebut  kepada Dewi Sri atau Dewi Padi. Agar panen yang akan datang menjadi lebih baik. Dalam upacara adat ini,  sedekah kepada bumi  merupakan persembahan terhadap arwah leluhur  untuk meminta keselamatan serta terhindar dari malapetaka.

Budayawan asal Lebak DC Aryadi mengatakan, Dogdog Lojor  masih dipakai dalam upacara adat dan masih tetap dipegang teguh untuk melakukan serangkaian tradisi seren taun karena ini merupakan upacara penghormatan untuk menghindari dari bahaya dan sebagai tolak bala.

Seiring perkembangan zaman Dogdog Lojor memiliki dua versi, yang pertama yaitu Dogdog Lojor Khusus (asli) dan yang kedua kontemporer (campuran beberapa tarian dan gerakan).

Dogdog Lojor sebetulnya tidak untuk konsumsi publik karena upacara adat tersebut memiliki ritual khusus untuk persembahan kepada Dewi Padi, namun dengan kebutuhan dan keinginan para budayawan dan pelaku seni banten khususnya Lebak Dogdog Lojor akhirnya dapat di tampilkan kepada publik dengan sajian yang berbeda, serta tarian yang di pertunjukanpun sudah tercampur dengan tarian kontemporer saat ini.

Durasinya juga bebas, kalau aslinya tarian tersebut sesuai dengan perjalanan tradisi untuk menggambarkan jarak yang ditempuhnya dari tempat panen padi (sawah) hingga ke leuit (lumbung pagi), ujar DC Aryadi.

Jika dilihat saat ini Dogdog Lojor merupakan tarian yang selalu ada dalam berbagai acara, bukan hanya untuk ritual khusus saja yang hanya menyajikan akan tetapi para pelaku seni dan sanggar memilih Dogdog Lojor sebagai salah satu variasi baru yang harus di tampilkan pada masyarakat.

"Maka dari itu perbedaan dan nilai-nilai budaya yang dihasilkan tentu tidak sama, jika dalam tradisi asli terdapat ritual-ritual khusus, maka dalam pertunjukan seni yang di tampilkan ritual tersebut tidak ada, akan tetapi nilai budaya yang di pertunjukan tentu masih mengandung nilai-nilai kebudayaan dan pendidikan," ujar Aryadi menegaskan.

Tontonan menarik

Dogdog Lojor saat ini menjadi pertunjukan yang wajib dalam setiap acara yang ada di Lebak. selain menjadi ciri khas Dogdog Lojor mempunyai keragaman tarian yang bisa di padukan dengan alat musik tersebut, sehingga nuansa sakral yang seharusnya tidak dapat ditunjukan kepada masyarakat kini dapat menjadi tontonan yang menarik namun masih memiliki unsur tradisionalnya.

Hal ini dipertegas pembina sanggar kesenian Gates sekaligus pembina TMB, Samsul Bahri yang mengatakan, kesenian ini merupakan tujuan kita untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang tradisi yang ada di Lebak ini ternyata masih ada dan tetap bertahan diantaranya Dogdog Lojor dan Angklung Puun.

Rupanya kesenian Dogdog Lojor menjadi pilihan beberapa sanggar seni di daerah Lebak, selain unik dan menarik Dogdog Lojor bisa di padukan dengan beberapa tarian dan pertunjukan seperti pertunjukan teater.

Samsul mengatakan, kesenian Dogdog Lojor dipopulerkan ke masyarakat sekitar tahun 2010 hingga dipergunakan sampai saat ini.

Hal ini juga diakui, Kamal salah satu pemain Dogdog Lojor tersebut mengaku saat ini sudah banyak pemain alat musik tersebut di Lebak.

Tradisi Dogdog Lojor yang asli memiliki enam pemain, dua di antaranya pemain Dogdog, dan empat pemain angklung. Sedangkan dalam Dogdog Lojor kontemporer anggotanya tidak terbatas mereka bisa samapai 12 orang pemain sesuai kebutuhan dan alat yang ada.

Dogdog Lojor berkaitan juga dengan kepercayaan Sunda Wiwitan yang dianut masyarakat Baduy biasanya diselenggarakan setahun sekali untuk memberikan penghormatan kepada dewi padi dan untuk tolak bala.

Dalam tradisi sebenarnya, hasil padi tersebut di bawa dalam bambu dengan cara di pikul dan akan menghasilkan bunyi klasik dengan berjalan sambil berjingkrak-jingkrak sehingga alat yang di pikulnya akan menimbulkan bunyi, permainan ini dilakukan dengan cara berlawanan arah sambil memutarkan badannya yang diikuti nyanyian dan suara alat yang dipegang.

Pada saat lingkaran itu terbentuk lalu dan nyanyian itu berakhir, pemain tersebut menghentikan sejenak alat dan nyayiannya untuk kemudian dilanjutkan biasanya lagu yang dibawakan berirama gembira seperti "kacang Buncis" atau "Tongeret".

Kesenian atau pun tradisi ritual Dogdog Lojor walaupun terdapat banyak versi sekarang ini namun nilai-nilai budayanyalah yang harus tetap ada sehingga kesenian tradisional ini tidak luntur seiring perkembangan zaman.

Walaupun dalam perjalanannya tradisi ruatan ini mengalami perdebatan di kalangan masyarakat Baduy dengan daerah selatan Lebak seperti Cisungsang, Cibeber dan lain sebagainya hal ini tidak menjadikan tradisi ruatan seren taun hilang, bahkan upacara penghormatan tersebut masih tetap berjalan setiap tahunnya, setiap tanggal 22 bulan Rayagung sebagai bulan terakhir serta menjadi objek foto yang banyak diburu di kalangan  fotografer profesional.

Pewarta:

Editor : Ganet Dirgantara


COPYRIGHT © ANTARA News Banten 2013