Jumat, 18 Agustus 2017

Distabun Lebak Cegah Penyebaran Hama Secara Optimal

id Distabun Lebak Cegah Penyebaran Hama Secara Optimal
Lebak (Antara News) - Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak melakukan pencegahan penyebaran hama secara optimal sebagai upaya menyelamatkan produksi pangan di daerah itu.

"Kami mengintruksikan petugas Unit Pelaksana Teknis (UPT) kecamatan, pengamat organisme pengganggu tanaman (POPT) dan kelompok tani dapat mencegah penyebaran hama agar tidak meluas," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Dede Supriatna di Lebak, Senin.

Pengoptimalan pencegahan penyebaran hama tersebut guna mendukung peningkatan produksi pangan di Kabupaten Lebak.

Potensi serangan hama sejak beberapa bulan terakhir ini cukup berpeluang karena curah hujan di daerah itu cenderung meningkat.

Biasanya, curah hujan meningkat menyebabkan suhu udara lembab sehingga populasi serangan hama wereng batang coklat (WBC) maupun tikus berkembang biak.

Karena itu, pihaknya mengoptimalkan pencegahan penyebaran hama agar tidak meluas dengan mengintruksikan petugas UPT Kecamatan, POPT dan kelompok tani.

Selanjutnya, petugas itu melaksanakan pengendalian dengan gerakan massa di wilayah endemik serangan hama.

Pengendalian gerakan massa agar populasi hama tidak berkembang melalui penyemprotan pestisida maupun pengasapan ke lubang-lubang tikus.

Setelah dilakukan pengendalian itu maka batang tanaman padi atau jerami yang sudah mati agar dibakar.

Sebab, pembakaran dapat memutus mata rantai penyebaran hama WBC maupun binatang hama lainnya.

"Kami menerima laporan tanaman padi yang mengalami puso seluas 148 hektare dan ancaman serangan seluas 1.022 hektare," ujarnya.

Menurut Dede, setelah dilakukan identifikasi serangan hama maka kelompok tani dapat mengajukan klaim bantuan asuransi pertanian.

Pemberian asuransi pertanian harus dilengkapi dengan keterangan petugas UPT kecamatan dan POPT setempat.

Saat ini, nilai asuransi pertanian akan menerima bantuan sebesar Rp6 juta per hektare.

"Ekonomi petani itu tentu terbantu adanya pembayaran asuransi pertanian itu, karena mereka bisa kembali melaksanakan tanam serentak," katanya.

Dede mengimbau petani ke depan apabila melaksanakan gerakan percepatan tanam dengan melakukan pergantian varietas benih.

Umumnya, kata dia, mereka petani kebanyakan tanam benih padi varietas Ciherang maka diganti dengan benih infari atau benih unggul lainnya.

Pergantian benih itu agar tidak mudah terserang hama WBC maupun penyakit OPT lainnya.

Selain itu juga pihaknya bekerja sama dengan Badan Penerapan Teknologi Pertanian (BPTP) Banten untuk menanam padi percontohan seluas satu hektare di masing-masing kecamatan.

"Tanaman percontohan itu nantinya bisa dikembangkan petani setempat dengan menggunakan varietas benih itu agar tidak mudah terserang hama," katanya menjelaskan.

Yusrip (50) seorang petani di Blok Rangkasbitung Timur Kabupaten Lebak mengatakan, pihaknya panen padi Juli 2017 mengalami penurunan produksi akibat serangan hama tersebut.

Biasanya, dirinya bersih menerima pendapatan pertanian padi seluas satu hektare mencapai Rp20 juta.

Namun, saat ini panen padi hanya mendapatkan penghasilan Rp10 juta atau menurun 50 persen.

"Menurunya pendapatan penghasilan panen padi itu akibat serangan hama WBC," katanya.

Editor: Ganet

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga