Umat Hindu Perkuat NKRI Melalui Toleransi Kebhinekaan

id Festival Ogoh-Ogoh
Umat Hindu Perkuat NKRI Melalui Toleransi Kebhinekaan
Umat Hindu mengarak ogoh-ogoh menjelang perayaan Hari Raya Nyepi saat festival ogoh-ogoh di kawasan Pura Eka Wira Anantha, Kota Serang, Banten. Senin (27/3). Festival tersebut diikuti sebanyak enam banjar se-Provinsi Banten, diantaranya Serang, Tangerang, Ciledug, Tangerang Selatan, Rempoa, hingga Tigaraksa. (ANTARA FOTO/Siti Cahaya Bestari /17.)
Keragaman itu anugerah yang harus dipelihara
Serang (Antara News) - Umat Hindu di Tanah Air memperkuat negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) melalui toleransi kebhinekaan secara bersama-sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di masyarakat.

"Kita mencintai dan toleransi kebhinekaan itu adalah merupakan perintah ajaran Hindu," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten Anak Agung Anom Suartha saat upacara Tawur Kesanga di Pura Eka Wira Anantha, Serang, Banten, Senin.

Kecintaan terhadap NKRI tersebut dibuktikan umat Hindu saling toleransi di tengah kebhinekaan tunggal ika.

Keberagaman dan perbedaan agama, suku dan budaya menjadikan anugerah dari tuhan yang harus dipelihara dan dilestarikan.

Karena itu, umat Hindu terus meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara dengan toleransi kebhinekaan guna mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Selain itu juga umat Hindu mendukung program-program pemerintah dan melaksanakan Undang-Undang yang berlaku.

Sebab, ajaran Hindu mewajibkan taat terhadap pemerintah dan UU yang berlaku untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Apalagi, kecintaan kebhinekaan itu sebagai ajaran "tri hita karana" yang harus dilestarikan keaneka ragaman budaya serta lingkungan dalam menghadapi era globalisasi dan homogenisasi.

Pada dasarnya hakikat ajaran "tri hita karana" mengutmakan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini.

Ketiga hubungan itu antara lain pertama hubungan manusia dengan tuhan,kedua hubungan manusia sesama manusia dan ketiga hubungan manusia dengan alam sekeliling.

"Kita harus melestarikan dan mengembangkan ajaran "tri hita karana" agar kehidupan manusia menjadi damai, tentram, nyaman dan sejahtera," katanya.

Ia mengatakan, saat ini umat Hindu di Provinsi Banten diperkirakan sekitar 10.000 orang lebih.

Umat Hindu merayakan Nyepi Tahun Baru Saka 1939/2017 Masehi di Banten dengan tema 'Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI'.

Rangkaian Nyepi itu dilaksanakan upacara Melasti di pantang Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Minggu (26/3) dan dilanjutkan upacara Tawur Kesanga serta pawai Ogoh-ogoh dilakukan di Pura Eka Wira Anantha, Serang.

"Kami berharap pelaksanaan upacara Tawur Kesanga berjalan lancar dan khidmat," katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten Sunarto mengatakan momentum perayaan Nyepi Umat Hindu itu guna meningkatkan toleransi kebhinekaan guna memperkuat NKRI.

Dimana ajaran Hindu juga mewajibkan hidup saling berdampingan dan toleransi di tengah perbedaan itu.

Apalagi, hubungan harmonisasi di Banten terjalin dengan baik melalui pemuka agama maupun lembaga agama, seperti Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Kami berharap hubungan baik itu menajdikan kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa sehingga tercapai masyarakat yang adil dan sejahtera," katanya menjelaskan.

Menyinggung soal upacara Tawur Kesanga di Pura Eka Wira Anantha ke depan bisa dijadikan budaya religi yang bisa mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara.

Pelaksanaan upacara tersebut nanti akan digelar pawai ogoh-ogoh dan gunungan .

"Kami berharap Pemerintah Banten bisa memfasilitasi kegiatan upcara Tawur Kesanga tahunan itu menjadikan ajang wisata di Banten," katanya menjelaskan.

Editor: Ganet

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga